Festival Imlek Indonesia
Pesona Sumatera Selatan

Ada yang Beda di Festival Imlek Indonesia : Reog Ponorogo Singo Krido Joyo Siap Tampilkan Pertunjukan Spektakuler

Ada yang Beda di Festival Imlek Indonesia : Reog Ponorogo Singo Krido Joyo Siap Tampilkan Pertunjukan Spektakuler
SUDAH berkali-kali mengikuti even kali ini Paguyuban Reog Ponorogo Singo Krido Joyo Palembang akan turut meramaikan Festival Imlek Indonesia (FII) yang diinisiasi oleh Kompas Gramedia Sumsel pada 11-12 Februari mendatang.
Ditemui di lokasi latihan di Jalan Mandi Api KM 5 Palembang, puluhan pemain Reog sedang melakukan latihan untuk mematangkan saat tampil di Festival Imlek Indonesia (FII) nanti.
Singo Barong atau topeng pada Reog dengan ukuran besar tengah dipersiapkan. Topeng yang terbuat dari bambu dan dilapisi bulu burung Merak ini memiliki berat yang lumayan, kepala sang Barong dilapisi khusus kulit Harimau jadi bila di total berat bisa mencapai 50 kilogram.
Meski sudah 13 tahun Barong itu pun masih tetap kuat, dan tak ada tanda tanda lapuk dan rusak.
Wakil Paguyuban Reog Ponorogo Singo Krido Joyo, Muji mengatakan, nanti pihaknya akan menampilkan tari
Bantaranginan yang bermakna raja bersama singa Barong memperebutkan Putri dari Kediri.
Menurutnya, sang raja saat melakukan lamaran kepada putri Kediri ada singa Barong yang juga menyukai sang putri akhirnya mereka berperang saling memperebutkan putri.
“Nanti kami akan tampil sekitar 10 menit saat menyambut para pejabat yang hadir,” katanya saat dibincangi Tribun, Kamis (2/2).
Ia juga mengatakan si pemeran Barong murni menggunakan teknik kekuatan kepala untuk memikul beban Barong yang relatif berat dan tak ada ritual khusus saat memakai topeng Barong.
Si pemain dalam keadaan sadar. Namun karena teknik dan seringnya latihan maka seberat apapun berat Barong bisa dipukul.
“Hanya orang asal Ponorogo yang mampu memainkan Reog tapi sekarang sudah banyak juga orang luar Ponorogo yang main tapi bagusnya ya orang asli Ponorogo,” ujarnya.
Pertama kali seni Reog masuk ke Palembang pada tahun 1984 lalu saat Pangdam II Sriwijaya dipimpin oleh Sutrisno. Pada masa itu Reog diminta untuk mengisi kegiatan seni yang ada di Palembang. Dan diakui Muji, Sutrisno lah yang pertama kali mengenalkan seni ini kepada masyarakat Palembang.
Hingga saat ini Reog masih eksis di Palembang. Meski bukan tradisi asli Palembang namun pihaknya merasa diterima oleh warga Palembang.
Sementara itu tim yang akan tampil nanti ada 40 orang akan menampilkan pentas Bantaranginan yang terdiri dari Kelono Sewan Dono atau Raja, Dadak Merak, Jatilan (penari wanita yang naik kuda), Pujangga Anom (penari topeng), Warok. (Melisa Wulandari)

Leave a Reply